POV jadi budak memang seru buat dijadikan konten atau bahan bercandaan di tongkrongan. Tapi jangan sampai itu jadi identitas permanenmu. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan hanya mengikuti kemauan orang lain atau standar layar HP yang tidak ada habisnya.

Menjadi "budak" dalam hubungan atau lingkungan sosial sebenarnya adalah tanda bahwa kita kehilangan boundaries (batasan).

Kita semua pasti punya satu teman (atau mungkin kita sendiri) yang kalau sudah sayang sama orang, logikanya langsung "pindah ke lutut". Menjadi budak cinta di era sekarang bukan cuma soal antar-jemput atau bayarin makan.

Dengan melabeli diri, kita merasa punya kelompok yang senasib.

Sekarang, bentuknya lebih ke . POV-nya seperti ini: Kamu merasa wajib membalas chat dalam hitungan detik, merasa cemas berlebihan kalau tidak di-tag di Instagram Story, atau rela mengubah kepribadianmu demi sesuai dengan standard pasangan yang kamu temui di dating apps. Kamu terjebak dalam siklus menyenangkan orang lain ( people pleasing ) sampai lupa kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri. 2. POV: Budak Konten dan Social Comparison

Menertawakan penderitaan sendiri lewat konten POV adalah cara paling mudah untuk berdamai dengan kenyataan yang pahit.

Cookies
essential